BANTENCORNER.COM – Ruang operasi adalah tempat di mana manusia berhenti merasa paling mampu. Aku menyaksikan sendiri, di bawah lampu terang itu tubuh terbaring tanpa daya tawar. Gelar, jabatan, dan rasa percaya diri yang di luar ruang ini sering merasa paling menentukan, mendadak tak punya suara. Yang tersisa hanya ikhtiar, itu pun dengan nada rendah.
Lorong rumah sakit di luar ruang operasi menjadi ruang tunggu kejujuran. Di sanalah aku belajar bahwa doa-doa sering kali mengalir paling tulus setelah seluruh strategi dunia dicoba dan keyakinan pada diri sendiri mulai kelelahan. Barangkali memang begitulah manusia: baru mengingat Tuhan ketika rencana-rencana terlihat rapuh.
Di dalam ruang operasi, layar monitor berbunyi ritmis. Angka dan grafik bergerak seakan hidup bisa diringkas dalam hitungan, asal tidak lupa bahwa grafik tak pernah menjanjikan apa pun. Mesin bekerja tanpa iman, dokter berikhtiar dengan ilmu, sementara aku seperti banyak orang lain hanya bisa berharap pada izin Yang Maha Menentukan.
Pasrah di ruang operasi bukan tanda kalah, melainkan koreksi. Koreksi atas keyakinan lama bahwa kemampuan selalu cukup. Di titik ini, aku belajar bahwa tawakal bukan pelarian, melainkan puncak dari usaha yang jujur dan di sanalah harapan tetap menemukan ruangnya.Mungkin memang diperlukan ruang operasi agar manusia sadar, hidup bukan sekadar soal kemampuan, melainkan tentang siapa yang diberi kuasa.
Tulisan ini aku persembahkan untuk orang terkasih yang sedang menjalaninya, dengan harapan semoga setiap ikhtiar dimudahkan, setiap doa diijabah, dan setiap langkah dipeluk oleh rahmat-Nya.





















