BantenCorner – Kalau ngomongin pahlawan legendaris, biasanya nama yang muncul itu Diponegoro, Cut Nyak Dien, atau Sultan Hasanuddin.
Tapi, pernah dengar tentang Sultan Ageng Tirtayasa? Beliau ini adalah salah satu sosok pemimpin yang nggak cuma bikin Belanda pusing tujuh keliling, tapi juga bikin rakyatnya bangga banget.
Sultan Ageng Tirtayasa adalah bukti kalau perjuangan melawan penjajahan itu nggak cuma soal senjata, tapi juga strategi, semangat, dan keberanian.
Sebelum masuk ke ceritanya, coba bayangin kondisi Nusantara waktu itu. Belanda, lewat VOC, lagi gencar-gencarnya mendominasi perdagangan dan politik di berbagai wilayah.
Mereka nggak segan-segan buat memaksakan kehendak dengan cara licik, termasuk di Kesultanan Banten. Tapi di sinilah Sultan Ageng Tirtayasa muncul sebagai tokoh yang nggak takut ngelawan.
Ia berdiri tegak demi kedaulatan rakyatnya, meski harus menghadapi pengkhianatan dari dalam keluarganya sendiri.
Sultan Ageng Tirtayasa: Sang Pemimpin Visioner
Sultan Ageng Tirtayasa, yang memiliki nama asli Abdul Fattah, naik takhta pada tahun 1651. Di bawah kepemimpinannya, Banten mencapai puncak kejayaan, terutama di bidang ekonomi dan diplomasi.
Ia berhasil memperkuat perdagangan internasional dengan membuka jalur dagang ke berbagai negara seperti Cina, Persia, hingga Inggris.
Sultan Ageng sadar betul bahwa pelabuhan Banten adalah aset strategis yang bisa jadi senjata utama melawan dominasi VOC.
Tapi, kejayaan itu nggak bertahan lama tanpa tantangan. VOC mulai merasa terancam dengan pengaruh Banten yang makin kuat.
Mereka mencoba berbagai cara buat melemahkan Kesultanan Banten, termasuk membujuk putra Sultan, Sultan Haji, untuk bersekutu dengan Belanda.
Sultan Ageng tentu nggak tinggal diam. Ia mengerahkan pasukannya untuk melawan VOC sekaligus mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Perjuangan Melawan VOC
Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap VOC bukan cuma perang fisik, tapi juga perang strategi.
Beliau memimpin rakyat Banten dengan gagasan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Pasukannya terkenal gigih dan loyal, meskipun persenjataan mereka nggak secanggih Belanda.
Namun, masalah terbesar datang dari dalam istana. Sultan Haji, putra Sultan Ageng sendiri, tergoda oleh iming-iming VOC.
Ia bekerja sama dengan Belanda untuk menggulingkan ayahnya. Konflik ini dikenal sebagai perang saudara yang sangat memilukan.
Sultan Ageng akhirnya ditangkap oleh VOC pada tahun 1683 dan dipenjara di Batavia (sekarang Jakarta). Meski begitu, semangat perjuangannya tetap dikenang oleh rakyat Banten.
Warisan Sang Sultan
Meskipun perjuangannya berakhir tragis, Sultan Ageng Tirtayasa meninggalkan warisan yang luar biasa.
Namanya diabadikan sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan, dan kontribusinya dalam membangun Kesultanan Banten diakui sepanjang masa.
Salah satu bentuk penghormatan terhadap beliau adalah pendirian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Serang, Banten.
Hari ini, cerita tentang Sultan Ageng Tirtayasa menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan dan kedaulatan membutuhkan keberanian yang luar biasa.
Beliau adalah teladan nyata bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang selalu berpihak pada rakyatnya, meski harus menghadapi risiko besar.
Jadi, kalau suatu hari kamu main ke Banten, sempatkan diri buat napak tilas perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa. Kisah beliau adalah warisan berharga yang harus kita jaga dan pelajari terus.
Mengungkap perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa, pemimpin visioner yang melawan Belanda demi kedaulatan Kesultanan Banten dan rakyatnya.***







