BantenCorner – Banten nggak cuma dikenal sebagai pusat perdagangan internasional di masa lalu, tapi juga sebagai tempat lahirnya tradisi dan ritual keagamaan yang kaya akan makna.
Dari era Kesultanan Banten hingga sekarang, wilayah ini masih menyimpan jejak sejarah yang erat kaitannya dengan budaya Islam. Tradisi yang tumbuh di sana nggak hanya menjadi cermin kehidupan masyarakat, tapi juga bagian dari identitas yang terus dipertahankan.
Kesultanan Banten, yang didirikan pada abad ke-16 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Nggak cuma sebagai pusat pemerintahan, kesultanan ini juga menjadi tempat berkembangnya tradisi keagamaan yang hingga kini masih dipraktikkan.
Yuk, kita gali lebih dalam tentang tradisi dan ritual yang jadi warisan budaya di tanah Banten ini!
Tradisi Maulid Nabi: Perayaan Penuh Makna
Salah satu tradisi keagamaan yang masih hidup di Banten adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan ini biasanya berlangsung dengan meriah dan penuh khidmat.
Nggak cuma sekadar membaca salawat atau sirah nabi, acara ini juga diwarnai dengan iringan seni tradisional, seperti debus dan rampak bedug.
Dalam tradisi Maulid di Banten, masyarakat juga menggelar arak-arakan panjang yang membawa tumpeng dan hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur.
Ritual ini menunjukkan betapa eratnya nilai agama dan budaya lokal dalam kehidupan masyarakat Banten, yang diwarisi sejak zaman kesultanan.
Ziarah ke Makam Sultan Maulana Hasanuddin
Ziarah ke makam Sultan Maulana Hasanuddin adalah tradisi yang nggak bisa dipisahkan dari masyarakat Banten. Ritual ini nggak hanya untuk mengenang jasa sang pendiri kesultanan, tapi juga menjadi sarana spiritual.
Banyak peziarah yang datang dengan harapan mendapatkan keberkahan, inspirasi, atau sekadar menenangkan diri.
Makam Sultan Maulana Hasanuddin terletak di kompleks Masjid Agung Banten, salah satu warisan bersejarah yang dibangun pada masa kejayaan kesultanan.
Tempat ini selalu ramai, terutama di momen-momen tertentu seperti bulan Ramadan atau menjelang hari besar Islam.
Debus: Seni Bela Diri Bernuansa Mistis
Kesultanan Banten juga terkenal dengan seni debus, yang punya unsur mistis sekaligus keagamaan. Pada zaman dulu, debus adalah bagian dari latihan bela diri para prajurit kesultanan.
Tapi, seiring waktu, debus juga menjadi sarana untuk menunjukkan kekuatan spiritual yang didasarkan pada ajaran Islam.
Atraksi debus sering kali ditampilkan dalam acara-acara adat atau keagamaan, seperti pernikahan, khitanan, atau hari besar Islam.
Meskipun terlihat ekstrem, seperti menusuk diri dengan benda tajam, para pelaku debus percaya bahwa kekuatan mereka berasal dari doa dan zikir kepada Allah.
Tradisi Panjang Mulud
Tradisi Panjang Mulud adalah salah satu ritual unik yang masih lestari di Banten. Tradisi ini merupakan bagian dari perayaan Maulid Nabi dan melibatkan prosesi arak-arakan “panjang mulud,” yaitu replika kapal besar yang dihiasi dengan berbagai ornamen.
Panjang Mulud adalah simbol perjalanan dakwah Islam oleh Nabi Muhammad SAW dan para penyebar agama Islam, termasuk Sultan Maulana Hasanuddin. Prosesi ini juga diiringi doa-doa serta lantunan salawat yang menambah suasana religius.
Tradisi dan ritual keagamaan di Kesultanan Banten bukan cuma menjadi cerminan sejarah, tapi juga bagian dari identitas masyarakat yang terus dipertahankan hingga kini.
Dari perayaan Maulid Nabi, ziarah makam, hingga seni debus, semuanya menunjukkan betapa eratnya hubungan antara nilai agama dan budaya di tanah Banten.
Tradisi ini nggak hanya menjadi warisan, tapi juga pengingat akan pentingnya menjaga akar budaya dan spiritualitas kita.
Menggali tradisi keagamaan Kesultanan Banten, dari Maulid Nabi hingga seni debus. Jejak sejarah Islam yang masih hidup di tanah Banten.***







