BantenCorner – Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII), Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP), dan Perkumpulan Film Musik dan Media (PERFIMA) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dalam rangka kerja sama produksi film bertema pesantren dan keislaman. Penandatanganan berlangsung di Kota Serang, Jumat (18/7), dan menjadi penanda dimulainya kolaborasi kreatif ketiga lembaga tersebut dalam dunia perfilman nasional.
MoU ditandatangani langsung oleh Ketua Umum KBPII, H. Makmun Muzakki, Ketua FSPP Banten, Dr. KH. E. Soleh Rosyad, serta Ketua Umum PERFIMA, H.R.M. Bagiono Prabowo. Acara ini turut disaksikan sejumlah tokoh pesantren, sineas muda, dan perwakilan KBPII Banten.
Dalam sambutannya, H. Makmun Muzakki menyebut kerja sama ini sebagai bentuk inovasi dakwah berbasis budaya populer. Ia menegaskan bahwa pesantren, sebagai pusat peradaban Islam di Indonesia, harus mulai menjangkau publik yang lebih luas melalui media sinema yang berkualitas.
“Pesantren selama ini menjadi pusat peradaban Islam di Indonesia. Sudah saatnya nilai-nilai pesantren menyapa publik lebih luas lewat karya sinema yang berkualitas,” katanya.
Lebih lanjut, Makmun menyampaikan bahwa ke depan akan ada dua program besar yang dirancang, yaitu Workshop Film dan Festival Film, yang direncanakan berlangsung di Provinsi Banten.
Senada dengan itu, Ketua Umum FSPP Banten, Dr. KH. Soleh Rosyad, MM menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan bagian dari upaya perluasan syiar Islam lewat pendekatan seni dan media.
“Hari ini kami melakukan MoU dengan para seniman dalam rangka upaya syiar lewat seni musik dan film. Ini adalah tuntutan zaman yang perlu kita respon,” ucapnya.
Menurutnya, tren di banyak pesantren saat ini menunjukkan adanya unit dokumentasi dan seni yang aktif, yang bisa menjadi fondasi kuat bagi gerakan sinema Islami.
“Sudah ada kru dan tim yang konsen di bidang dokumentasi dan seni. Maka hari ini kami membuka peluang MoU dengan KBPII dan PERFIMA. Mudah-mudahan ini disambut baik oleh para kiai dan pesantren,” sambungnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa setiap karya yang dihasilkan tetap harus mencerminkan nilai-nilai dakwah dan kesakralan Islam. “Saya menerimanya dengan catatan: bahwa dalam setiap film atau dokumentasi yang kita buat harus ada nilai dakwah, ada nilai-nilai sakral yang bisa disaksikan lewat film dan musik. Ini tantangan zaman yang tidak bisa kita tutup-tutupi,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan dari PERFIMA, H.R.M. Bagiono Prabowo, menilai kerja sama ini sebagai langkah kultural yang signifikan. Ia menyoroti pentingnya membangun ekosistem perfilman yang edukatif dan inklusif, serta membuka ruang bagi santri untuk mengekspresikan narasi mereka di layar lebar.
“Kami percaya sinema bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat transformasi sosial. Dengan menggandeng FSPP, kami ingin menghadirkan film yang berakar dari realitas kehidupan santri dan relevan dengan semangat zaman,” katanya.
Kesepakatan ini mencakup berbagai bentuk kerja sama, mulai dari pelatihan penulisan skenario, pelatihan teknis produksi, hingga distribusi film ke pasar nasional. Proyek film perdana rencananya akan dimulai akhir tahun ini dengan melibatkan para santri sebagai pemeran utama.
Melalui kemitraan ini, KBPII, FSPP, dan PERFIMA berkomitmen menciptakan ruang kreatif baru yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan, memperkuat citra Islam yang inklusif, damai, dan rahmatan lil ‘alamin.***







