BANTENCORNER.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Kelompok 79 menghadirkan ruang belajar nonformal bagi anak-anak di Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, melalui program Gema Literasi dan Pembinaan Keagamaan Anak.
Kegiatan yang menjadi bagian dari program kerja Bidang Pendidikan, Keagamaan, dan Penguatan Karakter Masyarakat itu berlangsung selama masa KKM, mulai 13 Juli hingga 23 Agustus 2026. Kegiatan digelar tiga kali sepekan, yakni setiap Senin, Rabu, dan Minggu, di Posko KKM 79 UNIBA, Kampung Cikondang, RT 11/RW 04, Desa Sukadaya.
Program ini lahir dari kondisi masih rendahnya budaya literasi dan keterbatasan ruang belajar nonformal di desa tersebut. Gema Literasi dirancang melalui pendampingan belajar, membaca bersama, diskusi interaktif, permainan edukatif, hingga evaluasi, yang berlangsung pukul 15.30–16.50 WIB. Rata-rata tujuh anak mengikuti setiap pertemuan, dengan jumlah yang berubah-ubah sesuai kondisi di sekitar posko.
Mahasiswa menemukan kemampuan literasi anak-anak cukup beragam; sebagian masih kesulitan membaca sehingga membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Pendampingan kemudian disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak, yang diberi kesempatan membaca perlahan dan tampil di hadapan teman-temannya.
Ketua KKM 79 UNIBA, Arizal Almunawar, mengatakan kegiatan itu tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga menciptakan kebiasaan belajar yang lebih positif di lingkungan anak.
“Kami melihat anak-anak di sekitar posko membutuhkan ruang belajar di luar sekolah yang tidak terlalu formal, tetapi tetap memberikan pendampingan. Karena itu, kami mencoba membuat kegiatan belajar yang dekat dengan dunia mereka, melalui membaca, bermain, berdiskusi, dan aktivitas edukatif lainnya,” ujar Arizal.
Setelah kegiatan literasi sore hari, program dilanjutkan dengan Pembinaan Keagamaan Anak setelah Magrib, pukul 18.45–19.55 WIB. Pada sesi ini, mahasiswa mendampingi anak-anak belajar membaca Al-Qur’an sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari Iqra, Juz Amma, tajwid, hingga doa-doa sehari-hari.
Arizal mengatakan penggabungan literasi dengan pembinaan keagamaan dilakukan agar ruang belajar yang dibangun mahasiswa tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik.
“Setelah sore hari anak-anak belajar literasi, malam harinya kami lanjutkan dengan mengaji dan pembinaan keagamaan. Jadi, ada keseimbangan antara kebiasaan belajar dengan pembentukan nilai-nilai keagamaan,” katanya.
Kegiatan ini dibantu sejumlah anggota KKM 79, di antaranya Siti Robiatul Fitriah, Maudi Maghfiroh, Chitra Cahya Anggraeni, Nur Wulan Purnama, Dzulkarnain, dan Uswatun Hasanah, dengan koordinasi program di bawah Agung Maulana.
Warga Kampung Cikondang, Eneh Sutiah, menilai kegiatan ini memberi alternatif bagi anak-anak mengisi waktu sepulang sekolah. “Biasanya setelah pulang sekolah anak-anak lebih banyak bermain. Dengan adanya kegiatan dari KKM, mereka mempunyai tempat untuk belajar dan membaca lagi,” ujarnya.
Aminudin, salah satu orang tua anak peserta, menyampaikan hal senada.
“Kami sebagai orang tua merasa terbantu karena anak-anak mempunyai kegiatan belajar di luar sekolah. Ada yang sebelumnya belum lancar membaca, kemudian mulai berani mencoba membaca bersama teman-temannya,” ungkap Aminudin.
Bagi Arizal, keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari banyaknya peserta yang hadir, melainkan dari kebiasaan kecil yang tumbuh selama proses pendampingan.
“Kami sadar bahwa waktu KKM terbatas. Karena itu, yang paling penting bagi kami bukan hanya berapa banyak kegiatan yang terlaksana, tetapi apakah anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang berkesan,” tuturnya.***








