SERANG– Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi diagendakan bakal menghadiri acara Keuceran Mande Macan Guling ke-69 yang diselenggarakan di Plaza Aspirasi, KP3B, Curug, Kota Serang, pada Kamis 10 September 2026.
Ketua Umum Mande Macan Guling, Ratu mengatakan, ritual tahunan Keuceran yang memadukan keahlian seni beladiri pencak silat, ketahanan fisik, dan kedalaman nilai spiritual tersebut diikuti oleh ribuan pesilat dan tokoh adat.
“Sekitar 6.000 lebih karena kan kita harus mengundang semua padepokan Macan Guling terus keluarga besar pendekar, minimal kan ada perwakilan. Kita sih ngga ada niat apa-apa cuma kita ingin silaturahmi dan melestarikan seni budaya Banten di Keuceran ini,” ucapnya kepada awak media di KP3B, Senin 7 Agustus 2026.
Menurutnya, kehadiran sosok Jokowi murni dirancang sebagai ruang temu silaturahmi sekaligus penguatan tali persaudaraan antar tokoh bangsa dengan masyarakat di tanah jawara.
Dia meyakini acara ritual tahunan itu akan berjalan sakral dan tidak akan terpengaruh oleh sekelompok orang yang menolak kedatangan salah satu putra terbaik bangsa tersebut.
“Saya punya keyakinan, kita ini tidak punya niat apa-apa, kita ini cuma mau melestarikan seni budaya Banten. Kalau pun ada penolakan itu mah sah-sah aja, kita ini harus berpikir dewasa gimana caranya walau tidak sepaham yang penting seirama,” katanya.
Acara Keuceran Mande Macan Guling ke-69 tahun ini dipusatkan di pusat pemerintah untuk menarik perhatian pemangku kebijakan.
Ratu berharap, Keuceran Mande Macan Guling jadi atensi khusus bagi pemerintah untuk melestarikan budaya khas Banten.
“Gimana caranya seni budaya Banten ini kita diangkat dengan mengundang presiden ketujuh bisa mengangkat, menarik, mengenal keceran itu apa? Untuk membersihkan mata, membersihkan hati, menurut saya itu penting buat kita setahun sekali di bulan Mulud,” terangnya.
Pencak Silat Mande Macan Guling sendiri berasal dari rumpun Pencak Silat Cimande. Mande Macan Guling diperkenalkan oleh Abah Jahari sekitar tahun 1957-an. Lalu dikembangkan secara terstruktur dan dipublikasikan secara luas oleh Abah Rahman di tahun 1976.
Di tahun itu juga, Mande Macan Guling berkoordinasi dengan PPPSBBI, wadah Peguron Senin Budaya Banten. Di saat itu lah, nama Mande Macan Guling resmo dibedakan dari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH).
Di tahun 2000-an, saat Guru Besar Abah Udin Jaenudin, Mande Macan Guling memperluas organisasinya hingga ke Jawa Barat dan DKI Jakarta. Kini, masih di bawah binaan Abah Udin Jaenudin, Mande Macan Guling sudah berada di 18 provinsi.








