Close Menu
Bantencorner.comBantencorner.com

    Berita Terbaru

    Selengkapnya

    Algo Sapiens: Ketika Manusia Mulai Kehilangan Kendali atas Pikirannya Sendiri

    30 September 2026

    Festival Anak Sholeh Indonesia Warnai Rangkaian HUT Banten ke-26 dan Milad BKPRMI ke-49, Ini Pesan Fahmi Hakim

    30 September 2026

    Lily Masita Tomasoa: Kejagung Harus Lihat Fakta, Bukan Hanya Laporan

    29 September 2026

    Jawilan Atletik Klub Borong Medali di Activ Fit Championship 2026

    27 September 2026
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Bantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Bantencorner.comBantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Home»NEWS»Algo Sapiens: Ketika Manusia Mulai Kehilangan Kendali atas Pikirannya Sendiri

    Algo Sapiens: Ketika Manusia Mulai Kehilangan Kendali atas Pikirannya Sendiri

    Aikal Pratama30 September 20264 Mins Read NEWS
    Copy Link Twitter WhatsApp Facebook
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    BANTENCORNER.COM — Kemajuan teknologi digital yang semula dirancang untuk memudahkan kehidupan manusia kini menghadirkan paradoks baru.Di balik kecanggihan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma, muncul kekhawatiran bahwa manusia justru semakin kehilangan kendali atas cara berpikir, menentukan pilihan, hingga menjalani kehidupannya sendiri.

    Fenomena tersebut menjadi sorotan Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers, melalui gagasannya tentang algo sapiens, sebuah gambaran manusia modern yang perlahan menggeser ketergantungan dari kemampuan berpikir mandiri menuju sistem algoritmik. Manusia tetap hidup sebagai makhluk biologis, sosial, dan emosional, tetapi kebiasaan berpikirnya semakin dibentuk oleh teknologi.

    Menurut Komaruddin, manusia pada awalnya menciptakan mesin pintar untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan. Namun, seiring waktu, teknologi justru mengambil peran yang semakin besar dalam menentukan keputusan manusia. Mulai dari informasi yang dikonsumsi, tontonan yang dipilih, barang yang dibeli, hingga berita yang dipercaya, semuanya semakin dipengaruhi rekomendasi algoritma.

    Perubahan ini menghadirkan bentuk kekuasaan baru yang tidak bekerja melalui paksaan atau perintah langsung. Jika kekuasaan konvensional mengandalkan instruksi, teknologi digital justru menggunakan pendekatan yang lebih halus melalui rekomendasi yang seolah memahami kebutuhan dan keinginan penggunanya. Tanpa disadari, ruang pilihan manusia perlahan dibentuk oleh sistem yang bekerja di balik layar.

    Pemikiran Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2018) turut menjelaskan bagaimana aktivitas manusia di ruang digital diolah menjadi data perilaku. Setiap pencarian, interaksi media sosial, transaksi daring, hingga kebiasaan menonton video menjadi sumber informasi yang digunakan untuk memprediksi tindakan seseorang. Data tersebut kemudian memiliki nilai ekonomi dalam sistem yang dikenal sebagai behavioral futures markets.

    Zuboff menggambarkan bagaimana pengawasan digital berkembang menjadi proses yang lebih jauh, yakni memprediksi sekaligus memengaruhi perilaku manusia. Algoritma tidak lagi sekadar membaca kebiasaan pengguna, tetapi juga dapat membentuk kecenderungan mereka melalui rekomendasi yang terus-menerus disajikan. Akibatnya, manusia bukan hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan juga sumber data yang menopang ekosistem digital.

    Ancaman terhadap kebebasan berpikir juga menjadi perhatian Franklin Foer dalam World Without Mind (2017). Foer menyoroti bagaimana dominasi perusahaan teknologi besar berpotensi mempersempit pengalaman informasi, mendorong keseragaman pemikiran, dan mengikis otonomi intelektual. Seseorang mungkin merasa bebas menentukan pilihan, tetapi pilihan tersebut bisa saja telah dikondisikan oleh informasi yang disaring dan disusun oleh algoritma.

    Situasi ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai penjara tanpa jeruji. Manusia tetap memiliki kebebasan bergerak dan mengambil keputusan, tetapi lingkungan pilihannya telah diatur oleh sistem rekomendasi. Mereka masih dapat membaca dan mencari informasi, namun apa yang muncul pertama kali di layar sering kali merupakan hasil pengolahan rekam jejak digital, bukan semata-mata pilihan yang lahir dari kesadaran pribadi.

    Di sisi lain, kemajuan teknologi tidak serta-merta menghilangkan kecemasan manusia. Pemikiran Byung-Chul Han dalam The Anxious Society menggambarkan kehidupan modern yang diwarnai ketakutan akan kegagalan, ketertinggalan, dan kehilangan kendali atas masa depan. Di tengah konektivitas yang semakin luas, manusia justru berpotensi mengalami keterasingan dan kesepian, bahkan ketika berada di tengah keramaian.

    Ketiga pemikiran tersebut memperlihatkan persoalan yang saling berkaitan. Zuboff menjelaskan bagaimana manusia diawasi melalui data, Foer menguraikan ancaman terhadap kemandirian berpikir, sementara Han menyoroti kecemasan dan keterasingan yang menyertai kehidupan modern. Ketiganya mengarah pada pertanyaan mendasar tentang kemampuan manusia mempertahankan kendali atas hidupnya sendiri di tengah dominasi teknologi.

    Komaruddin mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh informasi dapat berubah menjadi ketergantungan yang melemahkan kapasitas manusia sebagai homo sapiens. Daya ingat yang jarang digunakan, kemampuan analisis yang semakin tumpul, serta berkurangnya pengalaman belajar dari kesalahan menjadi risiko ketika proses berpikir terlalu banyak diserahkan kepada mesin. Padahal, kemampuan bertanya, meragukan, merenung, dan bertanggung jawab atas pilihan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.

    Pada akhirnya, kecerdasan buatan yang semakin maju tidak serta-merta memiliki kebijaksanaan untuk memahami makna dan tujuan hidup. Algoritma bekerja berdasarkan pola masa lalu untuk memprediksi masa depan, sedangkan manusia memiliki kemampuan untuk mengubah arah, belajar dari kesalahan, dan menentukan pilihan baru secara sadar. Tantangan terbesar era digital bukan sekadar menjaga privasi, melainkan memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menghilangkan esensi kemanusiaan dan kebebasan berpikir.

    Algoritma algosapiens dewan pers Homo sapiens kecerdasan buatan
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Terpopuler

    Jawilan Atletik Klub Borong Medali di Activ Fit Championship 2026

    NEWS 27 September 2026

    Ketua DPRD Kota Serang Gerak Cepat Bantu Sapi’i Warga Kasemen, Keluarga Tak Mampu Lagi Berobat

    Usulkan Bersama Pandeglang, KONI Kabupaten Serang Siapkan Diri Jadi Tuan Rumah Porprov 2030

    Teguh Santosa: JMSI Dukung Penuh Pelaksanaan HPN 2027

    Sejarah Perang Banten VS Batavia, Kisah Pemberontakan Sultang Ageng Terhadap VOC

    Recent Post

    Ketua DPRD Kota Serang Gerak Cepat Bantu Sapi’i Warga Kasemen, Keluarga Tak Mampu Lagi Berobat

    27 September 2026

    Hore! Karang Taruna Banten Gelar Perayaan HUT ke-66 di Tangsel: Ada Jalan Sehat, Bazar UMKM dan Doorprize

    26 September 2026

    Usulkan Bersama Pandeglang, KONI Kabupaten Serang Siapkan Diri Jadi Tuan Rumah Porprov 2030

    25 September 2026

    Teguh Santosa: JMSI Dukung Penuh Pelaksanaan HPN 2027

    25 September 2026

    Diburu Sejak Lama, DPO Kejari Kota Tangerang Berhasil Ditangkap di Jawa Tengah

    25 September 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Kontak

    Jl. Akses Gedung/Perumahan Pondok Angsana Indah 1 Kasemen

    • red.bantencorner@gmail.com
    • +62 857-1947-9969
    • News
    • Politik
    • Parlemen
    • Hukrim
    • Regional
    • Feature
    • News
    • Perspektif
    • Figure
    • Info Loker
    • Kolom
    • Jadi Kolumnis
    • Kirim Opini
    • S&K
    • FAQ
    • Kolaborasi
    • Media Partner
    • Sponsorship
    • Iklan & Adv
    • Iklan Baris
    • © 2024 Bantencorner.com
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Peta Situs
    • Kebijakan Privasi
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.