SERANG– 21 kilogram lebih narkotika jenis sabu hasil sitaan sindikat jaringan internasional yang dikirim dari Malaysia dimusnahkan BNN Banten.
Kepala BNN Banten Rohmad Nursahid menceritakan kasus ini bermula dari penangkapan tersangka berinisial AY (31) dan M (31) di Ruko Junior, Jalan Bumi Indah, Pasar Kamis Tangerang pada 28 Maret 2024, sekitar pukul 13.00 WIB.
“Awalnya 2 tersangka, pertama inisial M kedua AY, kemudian dari awalnya 1 kilo dari tersangka M berhasil kita kembangkan jadi 19 bungkus, dimana totalnya adalah 21 kilo lebih,” ujar Rohmad di Serang Kamis (25/4/2024).
Menurut Rohmad, sindikat jaringan internasional ini dikendalikan oleh seorang warna binaan di Lapas Keas 1 Tangerang berinisial S.
“Kemudian dari terangka AY kita kembangkan muncul nama salah satu warga binaan di lapas kelas 1 Tangerang,“ tambah Rohmad.
Dilokasi penangkapan, petugas sita barang bukti narkotika jenis sabu. Pengkauan pelaku, sabu ini milik seorang napi Lapas Kelas 1 Tangerang berinisial S.
Dia berujar, Tersangka S merupakan warga binaan dimana kasus yang sama yaitu kepemilikan ganja 380 kilogram yang ditangkap oleh jajaran polda metro, divonis 20 tahun, Smenjalani hukuman kurang lebih 10 tahun. “Jadi sisa hukuman tersebut ternyata mereka terlibat jaringan narkotika jenis sabu tersebut,” katanya.
Setelah diinterogasi, S mengakui mengendalikan sabu dari Malaysia, diselundupkan melalui Aceh dengan menggunakan mobil Innova yang telah dimodifikasi.
“Barang ini berasal dari Aceh, ini ternyata dikirim sudah tiga kali total awalnya 33 kilogram, kemudian dia sudah melakukan transaksi selama tiga kali dengan kami tangkap ini adalah transaksi yang keempat. Kemudian modifikasi pengiriman dengan dikirim menggunakan kijang Innova yang sudah dimodifikasi. Jadi barang tersebut dimasukkan ke tangki yang sudah dimodifikasi untuk mengelabuhi petugas,” tutur dia.
Adapun, bandar atau pemilik sabu tersebut milik warga Malaysia berinisial P, petugas BNN Banten saat ini masih mengembangkan kasus tersebut.
“Diduga ini dari Malaysia, tapi barang ini full awalnya dari Aceh, kemungkinan dari Malaysia dikirim lewat laut, kemudian dari Aceh kesini lewat darat,” pungkasnya.







