Close Menu
Bantencorner.comBantencorner.com

    Berita Terbaru

    Selengkapnya

    Pangkas Biaya, PROJO Setujui Gubernur Dipilih DPRD

    06 Januari, 2026

    Wakil Wali Kota Serang Lakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung KMP Kelurahan Unyur

    06 Januari, 2026

    Awas Diperika, Pemkab Bogor Gagal Bayar Sejumlah Proyek TA 2025

    05 Januari, 2026

    Banjir Rendam SD Negeri Pamarican 1 dan 2, Kadisdikbud Kota Serang Tinjau Langsung Lokasi

    04 Januari, 2026
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Bantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Bantencorner.comBantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Home»ARTIKEL»Kegagalan Berfikir Ade Sumardi dalam Penanganan Masalah Stunting di Banten
    ARTIKEL

    Kegagalan Berfikir Ade Sumardi dalam Penanganan Masalah Stunting di Banten

    By Rizki Mubarok11 November, 20244 Mins Read
    Copy Link Twitter WhatsApp Facebook
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    Penulis :  Rizky Afirianto Ketua DPW Prima Banten 

    BantenCorner– Isu stunting jadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan pasca debat kedua Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Provinsi Banten yang digelar di hotel bidakara jakarta pada kamis 7 November 2024 yang lalu. Pasalnya, persoalan stunting jadi salah satu pertanyaan panelis yang ditanyakan kepada pasangan nomor urut 01.

    Pada kesempatan tersebut, Cawagub nomor urut 01, Ade Sumardi menjabarkan terkait strateginya dalam menurunkan prevalensi stunting di Provinsi Banten. Setidaknya ada dua hal dari jawaban Ade yang perlu dipertanyakan kembali. Pertama, terkait pendefinisian stunting. Adapun penjelasan Ade adalah sebagai berikut:

    “Stunting adalah gagal tumbuh pada anak. Ada dua kategori stunting, yang pertama adalah gagal tumbuh fisiknya, dan yang kedua adalah gagal tumbuh otaknya”

    Uniknya, pada penjelasan lanjutan Ade kemudian menyebut bahwa anak yang pendek belum tentu stunting jika otaknya cerdas. Adapun kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut:

    “Jadi yang pendek itu belum tentu stunting kalau otaknya cerdas. Maka, kategori stunting itu ada dua itu; gagal tumbuh fisiknya dan gagal tumbuh otaknya.”

    Penjelasan lanjutan dari Ade justru menimbulkan kebingungan. Dengan logika yang sama, kita bisa menyimpulkan sebaliknya, anak yang tidak cerdas belum tentu stunting jika badannya tinggi. Jadi, apa fungsi kategorisasi stunting yang ia uraikan sebelumnya? Bagaimana kelak Ade mengidentifikasi anak pengidap stunting? Ini yang tidak terjawab dengan tuntas.

    Hal lain yang juga perlu dipertanyakan adalah saat Ade mengaitkan pernikahan dini dengan anak stunting. Adapun pernyataan lengkapnya adalah sebagai berikut:

    “Jaga jangan sampai ada pernikahan dini, karena itu akan menyebabkan anaknya stunting.”

    Tak sampai di situ, Ade juga melarang kehamilan bila si calon ibu mengidap penyakit kronis. Ade menyimpulkan bahwa anak yang lahir dari calon ibu yang mengidap penyakit kronis dapat dipastikan berisiko stunting.

    Perihal stunting, Ade Sumardi berulang kali menyampaikan gagasan berbasis asumsi. Ade sering lompat ke konklusi tanpa premis yang jelas. Tak ada penjelasan konkrit terkait pernikahan dini dan ibu yang sakit kronis dipastikan melahirkan anak stunting. Hal ini perlu dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Asumsi-asumsi yang sembrono jelas berbahaya jika dijadikan dasar pengambilan kebijakan publik.

    Hal semacam itu dikenal dengan istilah jumping to conclusion. Secara sederhana, jumping to conclusion adalah tindakan mengambil keputusan final dengan fakta yang tidak lengkap. Misal, “Dia anggota keluarga koruptor, sudah pasti dia koruptor juga!”

    Jumping to conclusion adalah bias kognitif yang berbahaya dan dapat berakibat fatal. Kenapa? Saat seseorang menganggap sesuatu sebagai sebuah kesimpulan final, maka otak akan menutup ruang untuk kemungkinan-kemungkinan serta alasan dan kesimpulan lain. Akibatnya adalah sikap reaksioner yang kemudian disesali.

    Kembali menyoal stunting, berbagai penelitian menjelaskan bahwa faktor hulu terjadinya stunting adalah persoalan kemiskinan yang berdampak kepada kekurangan gizi (terutama pada ibu hamil) dan 1.000 hari pertama sejak anak dilahirkan. Selain itu, krisis air bersih juga menjadi persoalan yang turut menyumbang tingginya jumlah stunting.

    Gross, Schultink, dan Sastroamidjojo, dalam penelitiannya yang bertujuan untuk mengetahui penyebab dan mengidentifikasi kelompok risiko stunting, menyebut bahwa stunting diawali dengan tidak terpenuhinya gizi yang disebabkan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, air minum, pendidikan, layanan kesehatan, rumah yang layak dan pengaruh budaya.

    Hal ini diperkuat oleh penelitian lain yang dilakukan oleh Hasanah, Handayani, dan Wilti yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan siginifikan antara faktor lingkungan dengan stunting. Faktor lingkungan yang dimaksud di antaranya adalah ketersediaan air bersih, kepemilikan sanitasi, dan sampah rumah tangga. Seluruhnya dianggap berkontribusi dalam penyebaran penyakit diare, ISPA, dan pada titik tertentu berhubungan erat dengan kasus stunting.

    Setidaknya dari dua penelitian tersebut di atas, didapati fakta bahwa permasalahan stunting tidak bisa disimplifikasi menjadi sebatas persoalan gizi dan nutrisi saja. Akan tetapi, stunting berkaitan erat dengan hubungan pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia (air bersih, sanitasi/jamban, akses terhadap pangan, serta kemiskinan). Pandangan bahwa stunting disebabkan oleh kurang gizi atau gizi buruk sudah kurang relevan lagi saat ini. Stunting merupakan akumulasi dari berbagai penyebab yang telah terjadi pada seluruh aspek kehidupan pada individu atau keluarga penderita stunting.

    Hal ini perlu dielaborasi lebih dalam demi menghindari kesalahan dalam mendiagnosa sebuah fenomena. Seorang dokter perlu melakukan verifikasi berganda dalam proses diagnosa; analisa, evaluasi, re-evaluasi, hingga akhirnya sampai pada tahap kesimpulan, kemudian menyusun resep dan agenda pengobatan. Bayangkan jika seorang yang menderita panas dalam, oleh karena kesalahan diagnosa dokter, kemudian diberi resep dan agenda pengobatan layaknya pasien kanker. Berbahaya, bukan?

    Apalagi, identifikasi permasalahan stunting sebagaimana yang dibahas sejak awal, bakal dijadikan dasar sebuah pengambilan keputusan atau kebijakan publik. Kegagalan mendiagnosa akan berakibat kepada kesalahan penanganan, dalam hal ini penyusunan program terkait pengentasan stunting di Provinsi Banten.

     

    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Terpopuler

    IMALA Gelar Pelantikan dan Upgrading Raya Komisariat, Teguhkan Kepemimpinan Amanah dan Progresif

    NEWS 02 Januari, 2026

    ‎Anggota DPRD Kota Serang Bantah Tuduhan Bawa Sajam saat Sidak Galian Ilegal

    Pengurus MWC NU Kecamatan Taktakan Dilantik, Momentum Perkuat Sinergitas Antar Banom

    Banjir Cilegon, Ansor Banser Hadir di Garda Terdepan Kemanusiaan

    Kadis Dikbud Kota Serang Tinjau Langsung Banjir di SMPN 25 Kasemen, Siapkan Opsi Pembelajaran Daring

    Recent Post

    Banjir Cilegon, Ansor Banser Hadir di Garda Terdepan Kemanusiaan

    04 Januari, 2026

    Kadis Dikbud Kota Serang Tinjau Langsung Banjir di SMPN 25 Kasemen, Siapkan Opsi Pembelajaran Daring

    04 Januari, 2026

    Pengurus MWC NU Kecamatan Taktakan Dilantik, Momentum Perkuat Sinergitas Antar Banom

    04 Januari, 2026

    IMALA Gelar Pelantikan dan Upgrading Raya Komisariat, Teguhkan Kepemimpinan Amanah dan Progresif

    02 Januari, 2026

    ‎Anggota DPRD Kota Serang Bantah Tuduhan Bawa Sajam saat Sidak Galian Ilegal

    31 Desember, 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Kontak

    Jl. Akses Gedung/Perumahan Pondok Angsana Indah 1 Kasemen

    • red.bantencorner@gmail.com
    • +62 857-1947-9969
    • News
    • Politik
    • Parlemen
    • Hukrim
    • Regional
    • Feature
    • News
    • Perspektif
    • Figure
    • Info Loker
    • Kolom
    • Jadi Kolumnis
    • Kirim Opini
    • S&K
    • FAQ
    • Kolaborasi
    • Media Partner
    • Sponsorship
    • Iklan & Adv
    • Iklan Baris
    • © 2024 Bantencorner.com
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Peta Situs
    • Kebijakan Privasi
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.