Close Menu
Bantencorner.comBantencorner.com

    Berita Terbaru

    Selengkapnya

    Bawa Visi Baru, Pramuka Banten Akan Olah Sampah Jadi Pupuk

    07 April, 2026

    DPRD Serang Siap Kawal Iklim Usaha Kondusif untuk Investor

    02 April, 2026

    DPD GMPK Banten Apresiasi Kebijakan Pemerintah: Jaga Stabilitas Harga BBM di Tengah Ketidakpastian Global

    01 April, 2026

    Pengangguran di Kota Serang Menurun, DPRD Dorong Langkah Lanjutan

    30 Maret, 2026
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Bantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Bantencorner.comBantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Home»PERSPEKTIF»Hakikat Pengetahuan, Bagaimana Jika yang Selama Ini Kita Anggap Benar Ternyata Salah?

    Hakikat Pengetahuan, Bagaimana Jika yang Selama Ini Kita Anggap Benar Ternyata Salah?

    Rizki Mubarok04 Januari, 20255 Mins Read PERSPEKTIF
    Copy Link Twitter WhatsApp Facebook
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    BANTENCORNER.COM – Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan asumsi. Sejak kecil, kita tumbuh di dalam lingkaran nilai-nilai dan pemahaman yang diwariskan oleh keluarga kita, masyarakat, atau budaya. Apa yang dianggap buruk menjadi tabu, dan apa yang dianggap baik menjadi pedoman. Tapi apakah semua itu benar? Atau setidaknya, apakah kebenaran itu bersifat mutlak?

    Kita perlu mempertanyakan apakah sesuatu yang telah lama kita anggap buruk ternyata baik, dan sebaliknya?” dan pertanyaan ini seolah mengacaukan dasar pemikiran kita dan membawa kita ke persoalan yang lebih besar. Misalnya, bagaimana kita menguji kebenaran? Apakah kebenaran itu tetap, atau harus terus diragukan, bahkan saat sepertinya telah terbukti?

    Kebenaran sering kali dianggap final. Misalnya, saat kita membaca berita tentang kecelakaan di Jakarta. Laporan menyebutkan sebuah mobil menabrak pohon rindang karena rem blong. Kita menerima informasi ini sebagai fakta—mobilnya benar-benar ada, pohonnya tumbang, dan remnya memang rusak. Namun, apakah kita benar-benar sudah mencapai kebenaran hakiki?

    Jika kita analisis, ada dua kemungkinan yang akan kita dapat. Pertama, berita itu benar ketika dilihat dari data faktual, lokasi, waktu, dan saksi. Jika kita pergi ke tempat kejadian dan melihat puing-puing kecelakaan, kita merasa mendapatkan validasi. Dalam tahap ini, kebenaran sudah teruji secara empiris. Tapi, apakah berhenti di sini?

    Sebelum lebih lanjut, kita pergi pada yang kedua, saat alasan kecelakaan ditelusuri lebih lanjut, misalnya karena rem blong, muncullah pertanyaan lain seperti kenapa rem itu bisa blong? Mungkin karena jarang perawatan, atau mungkin karena jalan licin. Setiap jawaban pasti akan membuka hal baru dari pemahaman kita. Hal ini membuktikan bahwa kebenaran tidak selalu final. Apa yang kita tahu adalah potongan-potongan dari gambaran besar yang “belum tentu” sempurna.

    Lebih lanjut, disinilah kita perlu meragukan hal-hal yang bahkan telah kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Keraguan adalah kendaraan pencarian pengetahuan. Socrates sendiri mengatakan, “Hidup yang tidak diuji adalah hidup yang tidak layak dijalani.” Tapi, apakah semua hal harus selalu diragukan?

    Ada hal-hal yang sudah melewati ujian waktu dan pengalaman sehingga diterima sebagai kebenaran universal. Misalnya, gravitasi dari Newton. Kita tidak perlu setiap hari menjatuhkan apel untuk memastikan bahwa gravitasi masih berlaku. Tapi pada hal-hal tertentu, seperti nilai-nilai moral atau berita yang bersifat situasional, keraguan masih tetap dibutuhkan.

    Ketika kita mulai mempertanyakan nilai buruk atau baik terhadap sesuatu yang kita yakini, kita telah selangkah lebih maju untuk memahami kompleksitas kehidupan. Sesuatu yang dianggap buruk mungkin ternyata adalah bagian dari pelajaran hidup, sementara sesuatu yang tampak baik bisa jadi ada konsekuensi yang tidak kita sadari. Ketika kita berani mempertanyakan, kita membuka diri untuk melihat realitas dari berbagai sudut pandang, melampaui sekadar apa yang diajarkan atau diwariskan leluhur kepada kita.

    Perlu diketahui, mempertanyakan tidak berarti menggugat tanpa dasar. langkah awal menuju pemahaman yang lebih utuh. Ketika kita meragukan, kita juga belajar mengumpulkan fakta, mendengarkan perspektif lain, dan menggali lebih jauh. Dalam proses ini, kita tidak hanya menilai sesuatu berdasarkan wajah luarnya tetapi juga melihat bagaimana sesuatu itu bisa terhubung dengan konteks dan dampaknya pada kehidupan.

    Sebagai contoh, apa yang dulu dianggap buruk seperti perbedaan pandangan atau kritik, sering kali membawa ruang untuk perbaikan dan evolusi pemikiran. Sementara itu, apa yang dianggap baik, seperti pengabdian “buta” pada tradisi, bisa jadi malah membelenggu pikiran kita dalam stagnasi.

    Dengan mempertanyakan nilai buruk dan baik, kita tidak hanya belajar lebih banyak tentang dunia, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Kita mendekati kebenaran dengan langkah yang lebih cermat, tanpa terburu-buru merasa puas atas jawaban pertama yang kita temukan. Inilah seni memahami kompleksitas kehidupan, berani bertanya, berani mencari, dan berani menerima bahwa kebenaran tidak selalu sesederhana yang terlihat.

    Kita sepakati bahwa “kebenaran final” atau “Mutlak” itu sebetulnya awal dari pertanyaan baru. Kebenaran itu seperti lingkaran air yang terus melebar ketika dilempar batu. Kita tidak pernah benar-benar mencapai titik akhir. Yang kita punya hanyalah versi kebenaran yang paling sesuai dengan data dan pemahaman kita saat ini.

    Selanjutnya haruskah Kita menguji sesuatu yang sudah lama Kita percaya? Ketika kita percaya pada sesuatu yang lama kita pegang sebagai kebenaran, mungkin kita pernah bertanya haruskah kita menguji kebenarannya lagi? Jawabannya tergantung.

    Ada situasi di mana pengujian terus menerus tidak diperlukan. Seperti gravitasi tadi, kebenarannya telah terbukti lewat ribuan eksperimen dan tidak perlu diragukan lagi setiap saat.

    Tapi dalam banyak situasi lainnya, pengujian itu bagian penting dari memastikan kebenaran. Dalam konteks berita kecelakaan tadi misalnya, bahkan ketika kita tahu mobil menabrak pohon karena rem blong, kita tetap perlu mempertanyakan keandalan informasi dan menggali lebih jauh lagi.

    Lagi dan lagi saya akan mengajak pembaca untuk selalu bertanya. Mengapa penting untuk terus menguji? Karena dunia berubah, informasi bisa berkembang, dan apa yang kita ketahui bisa saja tidak lagi relevan. Dalam sejarah, banyak hal yang dianggap mutlak pada masanya seperti keyakinan bahwa matahari mengelilingi bumi belakangan terbukti salah. Inilah yang menjadi advokasi dalam tulisan saya kali ini yang menyatakan bahwa tanpa sikap skeptis yang sehat, kita berisiko terjebak dalam dogma yang keliru.

    Dengan ini, kita perlu mengelola keraguan dan kebenaran dengan bijak. Keraguan itu seperti pisau bermata dua, di satu sisi, ia membantu kita mencapai kebenaran. Dengan meragukan dan menguji kembali, kita memperluas cakrawala pengetahuan. Tapi di sisi lain, keraguan tanpa henti bisa menjadi penghalang. Jika kita terus-menerus mempertanyakan segala hal tanpa batas, kita mungkin kehilangan pijakan dan arah.

    Kita harus menjaga keseimbangan. Menguji kebenaran berdasarkan konteks dan kebutuhan saja. Jika pengujian ini tidak lagi memberikan manfaat, atau tidak menemukan kebenaran lain,  maka terimalah kebenaran tersebut sebagai “sementara final,” sambil tetap membuka ruang di kepala kita untuk perubahan di masa depan.

    Mempertanyakan apakah sesuatu yang lama dianggap buruk ternyata baik, dan sebaliknya, kita anggap sebagai latihan untuk mempertajam pikiran kita. Tidak ada kebenaran absolut yang datang begitu saja tanpa melalui proses pengujian dan analisis.

    Kebenaran yang kita pegang hari ini mungkin adalah cermin dari pemahaman kita saat ini, tetapi bukan tujuan akhir. Dunia ini terus bergerak, seperti pemikiran kita. Dan dalam perjalanan mencari kebenaran, pertanyaan, keraguan, dan keberanian untuk menguji bisa menjadi cahaya yang membimbing jalan kita.

    Pada akhirnya, kebenaran bukanlah sekadar apa yang kita ketahui, tetapi bagaimana kita terus belajar untuk memahami dan menyempurnakannya. Karena sesungguhnya, dalam hidup, pencarian lebih berharga daripada kepastian.***

    Hakikat Kebenaran Pengetahuan

    Related Posts

    NEWS

    TBM Serang Bangkitkan Literasi dari Desa ke Kota

    25 Oktober, 2025
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Terpopuler

    Pengeroyokan Petugas Keamanan di Movenpick Carita, Satu Pelaku Diduga Anak Lurah Umbul Tanjung

    NEWS 27 Maret, 2026

    Kecam Keras Dugaan Kelalaian Perumda Tirta Benteng, Pemuda Gandasari Siap Turun ke Jalan

    Peninggalan Sejarah Kesultanan Banten yang Masih Bisa Kamu Kunjungi

    Menguak Sejarah Panjang dan Ritual Keagamaan di Makam Sultan Maulana Hasanuddin

    DPD GMPK Banten Apresiasi Kebijakan Pemerintah: Jaga Stabilitas Harga BBM di Tengah Ketidakpastian Global

    Recent Post

    Alun-Alun Kota Serang Siap Bertransformasi, DPRD Pastikan Pengawasan Optimal

    30 Maret, 2026

    Ketua DPRD Kota Serang Hadiri Retreat Nasional, Ini Manfaatnya

    28 Maret, 2026

    Proyek PSEL Kota Serang Mulai Bergerak, Pengawasan DPRD Diperketat

    27 Maret, 2026

    DPRD Serang Minta Pemkot Tata Pasar Jedogan Agar Lebih Tertib dan Nyaman

    27 Maret, 2026

    Kecam Keras Dugaan Kelalaian Perumda Tirta Benteng, Pemuda Gandasari Siap Turun ke Jalan

    27 Maret, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Kontak

    Jl. Akses Gedung/Perumahan Pondok Angsana Indah 1 Kasemen

    • red.bantencorner@gmail.com
    • +62 857-1947-9969
    • News
    • Politik
    • Parlemen
    • Hukrim
    • Regional
    • Feature
    • News
    • Perspektif
    • Figure
    • Info Loker
    • Kolom
    • Jadi Kolumnis
    • Kirim Opini
    • S&K
    • FAQ
    • Kolaborasi
    • Media Partner
    • Sponsorship
    • Iklan & Adv
    • Iklan Baris
    • © 2024 Bantencorner.com
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Peta Situs
    • Kebijakan Privasi
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.