BANTENCORNER.COM – Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banten menggelar Sekolah Strategi Kepemimpinan (SESPIM) sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Hari Santri. Kegiatan berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 di Gedung PKPRI, Kota Serang, Banten, dengan melibatkan 50 peserta dari delegasi cabang kabupaten/kota se-Banten.
Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan kader PMII yang menduduki posisi strategis di lingkungan organisasi dan kampus, mulai dari ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), ketua cabang, hingga jajaran pengurus komisariat.
Ketua PKC PMII Banten, Winah Setiawati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa SESPIM merupakan langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan kaderisasi sekaligus mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Menurutnya, proses membangun kepemimpinan tidak cukup hanya melalui narasi dan wacana pergerakan, tetapi harus diperkuat dengan pemikiran kritis, ide, serta gagasan yang solutif.
Ia menilai, kaderisasi harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami nilai-nilai organisasi, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual dan keberanian dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.
Melalui SESPIM, PKC PMII Banten menegaskan komitmennya untuk memperkuat kualitas sumber daya kader melalui peningkatan wawasan, kapasitas kepemimpinan, serta kemampuan membaca dinamika zaman. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk keseriusan organisasi dalam merawat kaderisasi PMII di seluruh wilayah Banten.
Winah berharap SESPIM dapat menjadi ruang perjumpaan gagasan dan pertukaran perspektif antara kader muda dengan berbagai kalangan yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidangnya masing-masing.
Untuk mendukung tujuan tersebut, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari beragam latar belakang, mulai dari pejabat pemerintahan, aktivis masyarakat sipil, akademisi, politikus, hingga birokrat. Keberagaman latar belakang narasumber diharapkan mampu memperkaya sudut pandang peserta dalam memahami persoalan kepemimpinan dan tantangan kebangsaan.
“Melalui kehadiran narasumber dari berbagai sektor, kami ingin peserta memperoleh transfer pengetahuan dan pengalaman secara langsung. Dengan begitu, kader PMII memiliki wawasan yang lebih luas dan kaya perspektif dalam menentukan arah gerakan,” ungkap Winah.
Penyelenggaraan SESPIM ini menjadi agenda perdana yang digagas PKC PMII Banten. Kehadirannya menandai upaya menghadirkan pendekatan baru dalam pengembangan kaderisasi, sekaligus memperkuat eksistensi PMII sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki tradisi intelektual dan keberpihakan terhadap persoalan masyarakat.
Lebih dari sekadar momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Santri, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi kader PMII untuk merespons berbagai tantangan bangsa, seperti kebodohan, ketidakadilan, kemiskinan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga melemahnya daya kritis generasi muda.
Winah menegaskan bahwa PMII tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah perjuangan semata. Sebaliknya, organisasi harus mampu menghadirkan kontribusi nyata melalui kekuatan intelektual, keberanian bersikap, serta gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Di sinilah PMII harus mengambil peran. Kita tidak ingin menjadi organisasi yang hanya sibuk merawat romantisme sejarah, tetapi harus tumbuh menjadi kekuatan intelektual yang mampu menjawab berbagai persoalan zaman,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa semangat Hari Santri dan Hari Sumpah Pemuda harus menjadi landasan moral sekaligus energi perjuangan bagi seluruh kader PMII. Warisan keberanian para ulama dan semangat persatuan pemuda harus diterjemahkan ke dalam sikap kritis serta keberanian memperjuangkan keadilan.
“Santri mewarisi keberanian para ulama, pemuda mewarisi semangat persatuan, dan kader PMII harus mewarisi keduanya dalam bentuk keberanian berpikir, keberanian bersikap, serta keberanian melawan ketidakadilan,” tuturnya.
Winah meyakini bahwa sejarah tidak akan sekadar mengingat mereka yang pandai mengenang perjuangan masa lalu, melainkan mereka yang memiliki keberanian untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut melalui tindakan nyata.








