SERANG– PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Serang membantah dugaan pencemaran Sungai Ciujung yang kembali menghitam hingga mengeluarkan bau pada akhir Oktober 2026.
Head of Public Affairs PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Serang, Arif Mahdali, mengklaim pembuangan limbahnya telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
Menurutnya, perusahaan telah memasang sistem pemantauan kualitas air limbah atau sparing di lokasi pembuangan. Alat tersebut akan mengeluarkan sinyal apabila kandungan limbah melampaui ambang batas baku mutu.
“Oleh kementerian kita ada sparing yang ditanam di tempat lembah kita kalau melebihi baku mutu yang ada sinyalnya akan bunyi di sana sparing itu,” ujar Arif usai acara Musrenbang Non-APBD di Pendopo Gubernur Banten, Kamis, 5 November 2026.
Saat ditanya apakah limbah yang dibuang perusahaan dipastikan aman, Arif menjawab bahwa pembuangan limbah telah mengikuti ketentuan pemerintah. Dia juga membandingkan aktivitas Indah Kiat dengan industri lain di sekitar Sungai Ciujung. Menurut dia, pencemaran tidak semestinya hanya dikaitkan dengan perusahaannya.
“Tapi yang selalu dituduh Indah Kiat ya kami akuin kami yang terbesar tapi yang kami buang sesuai dengan baku mutu yang sudah ditentukan pemerintah,” ujarnya.
Arif mengakui Indah Kiat merupakan salah satu perusahaan terbesar di kawasan tersebut. Meski demikian , dia tak menyebutkan industri lain yang dimaksud maupun menyampaikan data hasil pemantauan sparing untuk membuktikan bahwa limbah yang dibuang telah memenuhi baku mutu.
Bantahan perusahaan itu muncul ketika persoalan pencemaran Sungai Ciujung kembali menjadi sorotan masyarakat. Pada akhir Oktober lalu, aliran sungai tersebut kembali menghitam dan mengeluarkan bau menyengat.
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tanara bahkan mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum mengusut dugaan pencemaran industri serta menindak perusahaan yang terbukti melanggar ketentuan lingkungan.
Desakan itu tertuang dalam pernyataan sikap MWCNU Tanara pada 31 Oktober 2026. Organisasi tersebut meminta pemerintah menelusuri sumber pencemaran di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciujung dan menghentikan dampaknya terhadap masyarakat.
Ketua Tanfidziyah MWCNU Tanara, Sonabikh Rahmat, mengatakan Sungai Ciujung menjadi penopang kehidupan masyarakat, terutama untuk pertanian dan perikanan. Karena itu, perubahan warna dan bau air sungai tidak bisa dianggap sebagai persoalan sepele.
“Sungai Ciujung bukan sekadar saluran air, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat. Sungai ini memiliki peran penting bagi aktivitas sosial, pertanian, perikanan, dan kehidupan warga di sekitarnya,” kata Sonabikh, Selasa, 3 November 2026.
Sonabikh menilai kegiatan industri semestinya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, bukan justru membebankan dampak pencemaran kepada warga.
“Investasi dan kegiatan industri semestinya membawa kemaslahatan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan justru memindahkan beban pencemaran kepada warga lokal,” tandasnya.









