Close Menu
Bantencorner.comBantencorner.com

    Berita Terbaru

    Selengkapnya

    Tolak Tuduhan Tanpa Bukti, PT Kristalin Ekalestari Tegaskan Kepatuhan Regulasi

    6 Juli 2026

    Peringati Hari Kelautan Nasional, Arif Rahman Ajak Jaga Laut demi Masa Depan

    4 Juli 2026

    Budaya Kota Serang Bersinar di Kancah Nasional, Raih Juara III Pentas Seni APEKSI

    3 Juli 2026

    Tuntaskan Masalah Sampah, Pemkot Serang Optimalkan Bank Sampah & Libatkan Peran Aktif Warga

    3 Juli 2026
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Bantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Bantencorner.comBantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Home»KH. Syam’un

    KH. Syam’un

    Bantencorner.com22 April 20253 Mins Read FIGURE
    Copy Link Twitter WhatsApp Facebook
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    KH. Syam’un adalah sosok ulama dan pejuang yang lahir pada 5 April 1894 di Kampung Beji, Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten. Ia merupakan putra dari H. Alwiyan dan Hj. Siti Hajar, serta cucu dari KH. Wasid, tokoh kharismatik yang terlibat dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda dalam peristiwa Geger Cilegon 1888. Garis keturunan ini memberikan landasan spiritual dan perjuangan yang kuat dalam kehidupannya.

    Sejak kecil, KH. Syam’un sudah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama. Ia belajar di berbagai pesantren di Banten, seperti Pesantren Dalingseng di bawah bimbingan KH. Sa’i, dan kemudian di Pesantren Kamasan bersama KH. Jasim. Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Tanah Suci pada usia muda, di mana ia menimba ilmu di Mekkah sebelum akhirnya melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir—sebuah pusat pendidikan Islam bergengsi di dunia. Ia menamatkan pendidikannya di Al-Azhar pada tahun 1915, dan kembali ke tanah air dengan semangat membawa perubahan.

    Setibanya di Banten, KH. Syam’un mendirikan lembaga pendidikan Islam bernama Pondok Pesantren Al-Khairiyah pada tahun 1916 di Citangkil, Cilegon. Pesantren ini tak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi wadah pembentukan kader-kader pergerakan kebangsaan. Gagasan pendidikan yang ia bawa dari Timur Tengah menjadikan Al-Khairiyah sebagai pesantren modern di zamannya. Ia mendorong integrasi antara pendidikan agama dan pengetahuan umum, serta menanamkan semangat nasionalisme kepada para santri.

    Selain sebagai pendidik, KH. Syam’un juga aktif dalam dunia politik dan perjuangan. Pada masa pendudukan Jepang, ia bergabung dalam organisasi militer Pembela Tanah Air (PETA) dan menjadi seorang Dai Dan Tyo (Komandan Batalion) di wilayah Serang. Keberadaannya dalam PETA menjadikannya tokoh yang disegani oleh Jepang, meskipun ia diam-diam tetap menanamkan semangat anti-kolonial kepada rakyat.

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, KH. Syam’un diangkat sebagai Bupati Serang pertama oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun, tidak lama setelah menjabat, ia lebih memilih turun langsung ke medan pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam masa Agresi Militer Belanda II, ia ikut berjuang bersama laskar rakyat dan para santri melawan pasukan Belanda yang kembali ingin menjajah.

    KH. Syam’un wafat pada 28 Februari 1949 di wilayah Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, setelah jatuh sakit dalam perjuangan. Jenazahnya dimakamkan di tempat kelahirannya, dan hingga kini, makamnya menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi.

    Atas jasa-jasa dan dedikasi luar biasanya dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan perjuangan kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Syam’un pada tanggal 8 November 2018 melalui Keputusan Presiden Nomor 123/TK/2018.

    Warisan terbesar KH. Syam’un tidak hanya terletak pada lembaga pendidikan yang ia dirikan, tetapi juga pada semangat perlawanan terhadap penindasan dan perjuangan untuk keadilan yang ia tanamkan. Al-Khairiyah tetap berdiri tegak hingga kini sebagai simbol perjuangan dan pencerahan yang diwariskan oleh seorang ulama pejuang dari tanah Banten.

    Add A Comment

    Terpopuler

    Usia 83 Tahun, H. Sanusi Dituduh Menggelapkan Hanya Karena Jaga Masjid Wakaf

    NEWS 30 Juni 2026

    Budaya Kota Serang Bersinar di Kancah Nasional, Raih Juara III Pentas Seni APEKSI

    Diduga Terjadi Tindakan Premanisme di Lingkungan Kampus UNIBA, Mahasiswa Tempuh Jalur Hukum

    DPW PBJM Banten Resmi Dilantik, Siap Perkuat Khidmat dan Syiar Islam

    ‎Swasembada Pangan di Kab Serang: Kendala Irigasi, Serangan Hama & Upaya Pemerintah Menjawab Kebutuhan Petani

    Recent Post

    DPW PBJM Banten Resmi Dilantik, Siap Perkuat Khidmat dan Syiar Islam

    2 Juli 2026

    Selesai 100 Persen, Bulog Siap Lanjutkan Banpang Semester II 2026

    2 Juli 2026

    ‎Swasembada Pangan di Kab Serang: Kendala Irigasi, Serangan Hama & Upaya Pemerintah Menjawab Kebutuhan Petani

    1 Juli 2026

    Adde Rosi: Transformasi Digital Perbukuan Kunci Tingkatkan Mutu Pendidikan Daerah

    30 Juni 2026

    Usia 83 Tahun, H. Sanusi Dituduh Menggelapkan Hanya Karena Jaga Masjid Wakaf

    30 Juni 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Kontak

    Jl. Akses Gedung/Perumahan Pondok Angsana Indah 1 Kasemen

    • red.bantencorner@gmail.com
    • +62 857-1947-9969
    • News
    • Politik
    • Parlemen
    • Hukrim
    • Regional
    • Feature
    • News
    • Perspektif
    • Figure
    • Info Loker
    • Kolom
    • Jadi Kolumnis
    • Kirim Opini
    • S&K
    • FAQ
    • Kolaborasi
    • Media Partner
    • Sponsorship
    • Iklan & Adv
    • Iklan Baris
    • © 2024 Bantencorner.com
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Peta Situs
    • Kebijakan Privasi
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.