Close Menu
Bantencorner.comBantencorner.com

    Berita Terbaru

    Selengkapnya

    Arif Rahman Kunjungi Pasar Wonokromo Surabaya, Pantau Ketersediaan dan Harga Sembako

    12 Februari, 2026

    Sekda Deden Apriandhi Apresiasi RSUD Banten Raih Predikat Zona Integritas

    12 Februari, 2026

    Usut Tuntas Tambang Ilegal, KSM Banten Raya Kecam Pembiaran Aktivitas Galian C di Banten

    11 Februari, 2026

    Reses di Kasemen, Ketua DPRD Kota Serang Tampung Aspirasi Soal Jalan dan Drainase

    11 Februari, 2026
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Bantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Bantencorner.comBantencorner.com
    • HOME
    • NEWS
    • PERSPEKTIF
    • KAMPUS
    • FIGURE
    • BANTENPEDIA
    • TRAVEL
    Home»NEWS»HARDIKNAS: Saatnya Kita Bertanya, Pendidikan Kita Untuk Siapa?
    NEWS

    HARDIKNAS: Saatnya Kita Bertanya, Pendidikan Kita Untuk Siapa?

    By Rizki Mubarok02 Mei, 20255 Mins Read
    Copy Link Twitter WhatsApp Facebook
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    BANTENCORNER.COM – 2 Mei bukan sekadar penanda di kalender. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan di negeri ini pernah dilahirkan dengan keberanian dan cita-cita besar. Namun hari ini, mari kita jujur—cita-cita itu mulai lelah. Ia terjebak oleh kepentingan, dan pelan-pelan nyaris dilupakan.

    Nama Ki Hadjar Dewantara kita ucapkan tiap tahun. Tapi, yang kita warisi sering kali hanya foto hitam-putih di ruang guru, bukan semangatnya. Kita bangga menyebut beliau Bapak Pendidikan, padahal nilai-nilainya tak lagi kita perjuangkan.

    Pendidikan kini terlalu sering dijadikan proyek. Ladang anggaran, bahan kampanye, dan panggung pencitraan. Anak-anak jadi objek, bukan subjek. Guru cukup mengisi absen. Sekolah berubah jadi tempat kejar angka, bukan ladang tumbuhnya nurani.

    Gedung-gedung sekolah kita bangun bertingkat. Tapi harga diri guru masih terabaikan. Kita kejar peringkat internasional dan akreditasi luar negeri, tapi anak-anak di pelosok masih belajar di bawah atap yang bocor, bahkan langit terbuka.

    Mereka tak butuh janji dari pejabat. Mereka hanya ingin ruang aman untuk bertanya, buku yang layak dibaca, guru yang tidak kelelahan, dan sistem yang tidak sekadar menilai dari angka.

    Pendidikan yang Seharusnya Kita Wujudkan

    Pendidikan sejati bukan soal nilai ujian, tetapi tentang bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Yang berani berpikir berbeda, yang tak diam saat melihat ketidakadilan, dan yang tak tunduk pada sistem yang kaku.

    Sayangnya, hari ini pendidikan sering kali justru mengajarkan sebaliknya. Diam dianggap aman. Bertanya dinilai pembangkangan. Kreativitas dianggap berbahaya. Anak yang jujur terlihat aneh. Anak kritis dianggap mengganggu.

    Kita harus kembalikan pendidikan ke akarnya: memanusiakan manusia. Bukan hanya mencetak buruh atau calon pemilih. Kita perlu anak-anak yang berani berpikir, berani mencoba, dan tidak takut gagal.

    Guru harus dimuliakan. Bukan hanya lewat pidato upacara, tapi lewat keseharian. Naikkan kesejahteraan, ringankan beban administrasi, dan beri pelatihan yang menyentuh esensi mengajar.

    Kurikulum tidak harus sempurna, tapi harus manusiawi. Anak-anak perlu diajak berdiskusi, bertanya, berpikir kritis, dan peduli. Nilai tertinggi bukan angka, tapi keberanian menjadi manusia utuh.

    Banten: Citra dan Kenyataan

    Mari kita lihat ke Banten. Provinsi yang dikenal sebagai tanah ulama dan jawara. Tapi mengapa pendidikan di sini masih tampak seperti anak tiri?

    Anak-anak yang cerdas sering kali tenggelam dalam kemiskinan yang sistemik. Mereka yang seharusnya bisa jadi ilmuwan, justru berakhir sebagai buruh. Bukan karena malas, tapi karena sistem tidak pernah memberi mereka ruang adil.

    Guru-guru honorer di desa mengajar dengan sepenuh hati, tapi hidup dari utang warung. Sementara pejabat dinas sibuk mengikuti seminar, tapi minim hasil.

    Bukan dana yang kurang. Tapi nurani. Program pendidikan banyak, tapi hanya berakhir sebagai laporan, bukan perubahan.

    Pemimpin daerah harus berani menjadikan pendidikan sebagai isu utama. Tidak cukup membangun gedung sekolah. Kita perlu membangun budaya belajar, budaya berpikir, dan budaya menghormati guru.

    Pandeglang: Dari Tanah Santri ke Ladang Pengorbanan

    Sekarang izinkan saya bicara tentang kampung halaman: Pandeglang. Kota yang katanya religius. Tapi kenyataan di lapangan membuat saya sering menunduk. Terlalu banyak anak yang harus mengubur mimpinya karena tak mampu beli sepatu—apalagi buku.

    Saya tidak bercerita dari ruang seminar. Saya bercerita dari luka yang belum sembuh. Saya anak buruh tani. Orang tua saya bangun subuh, ke sawah, bergelut dengan lumpur, supaya saya bisa sekolah. Tidak ada yang mudah.

    Saya harus bekerja sejak kecil. Untuk beli seragam. Untuk bantu keluarga. Belajar dilakukan sambil menahan lelah, setelah mengangkat karung, mengikat padi, atau memperbaiki cangkul bersama ayah.

    Tapi pengorbanan paling besar bukan milik saya. Itu milik adik saya. Ia memilih berhenti sekolah agar saya bisa lanjut. Ia ingin meringankan beban orang tua. Katanya, “Kak, lanjutkan sekolah. Tidak semua orang dapat kesempatan itu.” Kalimat itu masih tertanam dalam hati saya.

    Adik saya tidak gagal. Negara ini yang gagal. Sistem ini yang gagal. Dan dia bukan satu-satunya. Di Pandeglang, banyak anak seperti dia. Pintar, rajin, tapi dikalahkan oleh kemiskinan yang dibiarkan menurun antargenerasi.

    Kepala daerah boleh punya visi dan misi. Tapi kalau tak tahu berapa banyak anak yang putus sekolah, berapa kelas yang bocor, atau berapa guru yang belum bersertifikasi, semua itu hanya ilusi.

    Keluarga: Sekolah Pertama yang Sering Terlupa

    Sekarang mari pulang. Kembali ke rumah. Tempat pertama dan terakhir di mana pendidikan seharusnya dimulai.

    Keluarga adalah sekolah pertama. Ayah dan ibu adalah guru pertama. Tapi hari ini, anak-anak lebih sering belajar dari media sosial daripada dari orang tuanya sendiri.

    Anak-anak tak hanya butuh makan atau pakaian baru. Mereka butuh dipeluk, didengar, dan ditemani. Mereka butuh cerita sebelum tidur, dan percakapan hangat di meja makan.

    Rumah bukan tempat mengontrol anak, melainkan ruang tumbuh bersama. Bukan tempat menuntut nilai sempurna, melainkan tempat mengajarkan makna kehidupan.

    Jika rumah penuh kekerasan, maka tidak ada sekolah yang bisa menyembuhkan luka itu. Tapi jika rumah penuh cinta, anak-anak akan tumbuh menjadi manusia yang berani dan punya harapan.

    Refleksi dan Harapan

    Hari Pendidikan Nasional adalah momen untuk bercermin. Apa yang sudah kita lakukan? Apakah kita hanya mengeluh, atau ikut menjadi bagian dari perubahan?

    Pendidikan bukan hanya urusan pemerintah pusat. Ia adalah tanggung jawab bersama: daerah, masyarakat, keluarga.

    Kita ingin pendidikan yang membentuk karakter. Yang membuat anak-anak cinta ilmu, peduli pada sesama, dan berani menolak ketidakadilan.

    Kita ingin guru yang dihormati, bukan dieksploitasi. Sekolah yang hidup, bukan hanya bangunan. Rumah yang hangat, bukan sekadar tempat berlindung dari hujan.

    Mari kita wujudkan pendidikan yang tak hanya menambah ilmu, tapi juga menumbuhkan akhlak. Yang tak hanya mencerdaskan, tapi juga menguatkan.

    Selamat Hari Pendidikan Nasional. Untuk semua guru yang tetap setia. Untuk semua anak yang tetap belajar, meski dalam kekurangan. Untuk adik saya, dan anak-anak yang berkorban demi satu harapan kecil.

    Semoga pengorbanan mereka tidak sia-sia. Dan semoga negeri ini segera sadar: pendidikan bukan slogan. Ia adalah janji kemerdekaan.

    Nurjaya Ibo

    -Anak Seorang Buruh Tani, Manusia Indonesia yang percaya bahwa kekuasaan ada untuk melayani rakyat kecil, bukan panggung cari nama.***

    Banten Hardiknas Pandeglang
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Terpopuler

    LMND SERANG RAYA GELAR PENDIDIKAN TINGKAT LANJUT 1 TEGASKAN PERAN MAHASISWA MELAWAN SERAKAHNOMICS DAN DORONG KEMAJUAN KOTA SERANG

    NEWS 08 Februari, 2026

    Dindik FC Raih Juara Disnaker Kota Serang Industrial Cup 2026

    Usut Tuntas Tambang Ilegal, KSM Banten Raya Kecam Pembiaran Aktivitas Galian C di Banten

    Cetak Kader Tangguh, Ansor–Banser Pulomerak Gelar PKD dan DIKLATSAR

    Kisah Kepahlawanan Sultan Maulana Hasanuddin dalam Mendirikan Kesultanan Banten

    Recent Post

    Yudi Budi Wibowo Salurkan Bantuan Renovasi Rumah Ibadah Aspirasi Sufmi Dasco Ahmad

    11 Februari, 2026

    Ikatan Mahasiswa Baros Gelar Program “IKAMABA Goes To School 2026” di Enam Sekolah kecamatan Baros

    10 Februari, 2026

    Potensi Kerugian Negara Rp12 Juta di Pengadaan Aksesoris RISHA Jawa Barat, CBA Minta Evaluasi Ulang dan Akan Laporkan ke APIP Jika Tidak Ditindaklanjuti

    10 Februari, 2026

    DPRD Kota Serang Tutup Masa Persidangan II, Reses Digelar 10–13 Februari 2026

    09 Februari, 2026

    Dindik FC Raih Juara Disnaker Kota Serang Industrial Cup 2026

    09 Februari, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Kontak

    Jl. Akses Gedung/Perumahan Pondok Angsana Indah 1 Kasemen

    • red.bantencorner@gmail.com
    • +62 857-1947-9969
    • News
    • Politik
    • Parlemen
    • Hukrim
    • Regional
    • Feature
    • News
    • Perspektif
    • Figure
    • Info Loker
    • Kolom
    • Jadi Kolumnis
    • Kirim Opini
    • S&K
    • FAQ
    • Kolaborasi
    • Media Partner
    • Sponsorship
    • Iklan & Adv
    • Iklan Baris
    • © 2024 Bantencorner.com
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Peta Situs
    • Kebijakan Privasi
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.