BANTENCORNER.COM – 2 Mei bukan sekadar penanda di kalender. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan di negeri ini pernah dilahirkan dengan keberanian dan cita-cita besar. Namun hari ini, mari kita jujur—cita-cita itu mulai lelah. Ia terjebak oleh kepentingan, dan pelan-pelan nyaris dilupakan.
Nama Ki Hadjar Dewantara kita ucapkan tiap tahun. Tapi, yang kita warisi sering kali hanya foto hitam-putih di ruang guru, bukan semangatnya. Kita bangga menyebut beliau Bapak Pendidikan, padahal nilai-nilainya tak lagi kita perjuangkan.
Pendidikan kini terlalu sering dijadikan proyek. Ladang anggaran, bahan kampanye, dan panggung pencitraan. Anak-anak jadi objek, bukan subjek. Guru cukup mengisi absen. Sekolah berubah jadi tempat kejar angka, bukan ladang tumbuhnya nurani.
Gedung-gedung sekolah kita bangun bertingkat. Tapi harga diri guru masih terabaikan. Kita kejar peringkat internasional dan akreditasi luar negeri, tapi anak-anak di pelosok masih belajar di bawah atap yang bocor, bahkan langit terbuka.
Mereka tak butuh janji dari pejabat. Mereka hanya ingin ruang aman untuk bertanya, buku yang layak dibaca, guru yang tidak kelelahan, dan sistem yang tidak sekadar menilai dari angka.
Pendidikan yang Seharusnya Kita Wujudkan
Pendidikan sejati bukan soal nilai ujian, tetapi tentang bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Yang berani berpikir berbeda, yang tak diam saat melihat ketidakadilan, dan yang tak tunduk pada sistem yang kaku.
Sayangnya, hari ini pendidikan sering kali justru mengajarkan sebaliknya. Diam dianggap aman. Bertanya dinilai pembangkangan. Kreativitas dianggap berbahaya. Anak yang jujur terlihat aneh. Anak kritis dianggap mengganggu.
Kita harus kembalikan pendidikan ke akarnya: memanusiakan manusia. Bukan hanya mencetak buruh atau calon pemilih. Kita perlu anak-anak yang berani berpikir, berani mencoba, dan tidak takut gagal.
Guru harus dimuliakan. Bukan hanya lewat pidato upacara, tapi lewat keseharian. Naikkan kesejahteraan, ringankan beban administrasi, dan beri pelatihan yang menyentuh esensi mengajar.
Kurikulum tidak harus sempurna, tapi harus manusiawi. Anak-anak perlu diajak berdiskusi, bertanya, berpikir kritis, dan peduli. Nilai tertinggi bukan angka, tapi keberanian menjadi manusia utuh.
Banten: Citra dan Kenyataan
Mari kita lihat ke Banten. Provinsi yang dikenal sebagai tanah ulama dan jawara. Tapi mengapa pendidikan di sini masih tampak seperti anak tiri?
Anak-anak yang cerdas sering kali tenggelam dalam kemiskinan yang sistemik. Mereka yang seharusnya bisa jadi ilmuwan, justru berakhir sebagai buruh. Bukan karena malas, tapi karena sistem tidak pernah memberi mereka ruang adil.
Guru-guru honorer di desa mengajar dengan sepenuh hati, tapi hidup dari utang warung. Sementara pejabat dinas sibuk mengikuti seminar, tapi minim hasil.
Bukan dana yang kurang. Tapi nurani. Program pendidikan banyak, tapi hanya berakhir sebagai laporan, bukan perubahan.
Pemimpin daerah harus berani menjadikan pendidikan sebagai isu utama. Tidak cukup membangun gedung sekolah. Kita perlu membangun budaya belajar, budaya berpikir, dan budaya menghormati guru.
Pandeglang: Dari Tanah Santri ke Ladang Pengorbanan
Sekarang izinkan saya bicara tentang kampung halaman: Pandeglang. Kota yang katanya religius. Tapi kenyataan di lapangan membuat saya sering menunduk. Terlalu banyak anak yang harus mengubur mimpinya karena tak mampu beli sepatu—apalagi buku.
Saya tidak bercerita dari ruang seminar. Saya bercerita dari luka yang belum sembuh. Saya anak buruh tani. Orang tua saya bangun subuh, ke sawah, bergelut dengan lumpur, supaya saya bisa sekolah. Tidak ada yang mudah.
Saya harus bekerja sejak kecil. Untuk beli seragam. Untuk bantu keluarga. Belajar dilakukan sambil menahan lelah, setelah mengangkat karung, mengikat padi, atau memperbaiki cangkul bersama ayah.
Tapi pengorbanan paling besar bukan milik saya. Itu milik adik saya. Ia memilih berhenti sekolah agar saya bisa lanjut. Ia ingin meringankan beban orang tua. Katanya, “Kak, lanjutkan sekolah. Tidak semua orang dapat kesempatan itu.” Kalimat itu masih tertanam dalam hati saya.
Adik saya tidak gagal. Negara ini yang gagal. Sistem ini yang gagal. Dan dia bukan satu-satunya. Di Pandeglang, banyak anak seperti dia. Pintar, rajin, tapi dikalahkan oleh kemiskinan yang dibiarkan menurun antargenerasi.
Kepala daerah boleh punya visi dan misi. Tapi kalau tak tahu berapa banyak anak yang putus sekolah, berapa kelas yang bocor, atau berapa guru yang belum bersertifikasi, semua itu hanya ilusi.
Keluarga: Sekolah Pertama yang Sering Terlupa
Sekarang mari pulang. Kembali ke rumah. Tempat pertama dan terakhir di mana pendidikan seharusnya dimulai.
Keluarga adalah sekolah pertama. Ayah dan ibu adalah guru pertama. Tapi hari ini, anak-anak lebih sering belajar dari media sosial daripada dari orang tuanya sendiri.
Anak-anak tak hanya butuh makan atau pakaian baru. Mereka butuh dipeluk, didengar, dan ditemani. Mereka butuh cerita sebelum tidur, dan percakapan hangat di meja makan.
Rumah bukan tempat mengontrol anak, melainkan ruang tumbuh bersama. Bukan tempat menuntut nilai sempurna, melainkan tempat mengajarkan makna kehidupan.
Jika rumah penuh kekerasan, maka tidak ada sekolah yang bisa menyembuhkan luka itu. Tapi jika rumah penuh cinta, anak-anak akan tumbuh menjadi manusia yang berani dan punya harapan.
Refleksi dan Harapan
Hari Pendidikan Nasional adalah momen untuk bercermin. Apa yang sudah kita lakukan? Apakah kita hanya mengeluh, atau ikut menjadi bagian dari perubahan?
Pendidikan bukan hanya urusan pemerintah pusat. Ia adalah tanggung jawab bersama: daerah, masyarakat, keluarga.
Kita ingin pendidikan yang membentuk karakter. Yang membuat anak-anak cinta ilmu, peduli pada sesama, dan berani menolak ketidakadilan.
Kita ingin guru yang dihormati, bukan dieksploitasi. Sekolah yang hidup, bukan hanya bangunan. Rumah yang hangat, bukan sekadar tempat berlindung dari hujan.
Mari kita wujudkan pendidikan yang tak hanya menambah ilmu, tapi juga menumbuhkan akhlak. Yang tak hanya mencerdaskan, tapi juga menguatkan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Untuk semua guru yang tetap setia. Untuk semua anak yang tetap belajar, meski dalam kekurangan. Untuk adik saya, dan anak-anak yang berkorban demi satu harapan kecil.
Semoga pengorbanan mereka tidak sia-sia. Dan semoga negeri ini segera sadar: pendidikan bukan slogan. Ia adalah janji kemerdekaan.
Nurjaya Ibo
-Anak Seorang Buruh Tani, Manusia Indonesia yang percaya bahwa kekuasaan ada untuk melayani rakyat kecil, bukan panggung cari nama.***







