BANTENCORNER.COM- Gerakan Mahasiswa Serang Utara (GAMSUT) menyampaikan kekecewaan terhadap Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Serang periode 2025-2030. Mereka menilai bahwa kedua pemimpin daerah tersebut tidak aspiratif dan kurang menghargai upaya mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi terkait berbagai permasalahan di Kabupaten Serang.
Upaya audiensi yang diajukan GAMSUT sejak 15 Agustus 2025, terkait penilaian kinerja 100 hari kerja Bupati, tidak mendapatkan respons positif dari Bupati Ratu Rachmatuzakiyah. Meskipun sempat dijanjikan audiensi dengan kehadiran Bupati dan Wakil Bupati, kenyataannya, saat hari pelaksanaan, mahasiswa tidak mendapati kehadiran kedua pejabat tersebut. Keterlambatan dan ketidakhadiran ini memicu kekecewaan di kalangan mahasiswa.
Sekretaris Jenderal GAMSUT, Dzulfikar, mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakdisiplinan dan ketidakpedulian Pemerintah Kabupaten Serang. Dzulfikar menuturkan bahwa mahasiswa telah memenuhi undangan audiensi sesuai waktu yang ditentukan, namun mendapati ruangan masih kosong dan harus membuatnya harus menunggu.
“Dengan kesemangatan kami dalam menyampaikan aspirasi tersebut, kami menepati janji Audiensi tersebut sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Namun, ketika sampai tempat kami mendapati ruangan yang masih sepi dan kami menunggu sampai pukul 14:30 WIB. Dari sini pun sudah bobroknya Pemerintah Kabupaten Serang yang tidak disiplin,” ungkapnya kepada awak media pada Selasa, 26 Agustus 2025.
Lebih lanjut, Dzulfikar menyatakan kekecewaannya atas ketidakhadiran Bupati dan Wakil Bupati dalam audiensi tersebut. Ia menilai bahwa tindakan ini menunjukkan bahwa Bupati Ratu Rachmatuzakiyah tidak aspiratif dan tidak menghargai mahasiswa serta masyarakat yang peduli terhadap daerahnya.
Selain itu, Dzulfikar menambahkan bahwa alasan ketidakhadiran Bupati yang disampaikan oleh Kepala Kesbangpol Kab. Serang, yaitu karena sakit akibat banyaknya agenda, ternyata tidak benar. Mahasiswa menemukan bahwa Bupati justru menghadiri acara peluncuran buku rencana tenaga kerja kabupaten serang. Ia menyayangkan tindakan Bupati yang dianggap tidak menghargai aspirasi masyarakat.
“Kami sangat menyayangkan hal ini karena dengan tindakan ibu Bupati tersebut menandakan bahwa Bupati Ratu Rachmatuzakiyah tidak aspiratif terhadap masyarakatnya sendiri,” tangkasnya.
Lebih lanjut lagi, Dzulfikar mempertanyakan realisasi kebahagiaan yang dijanjikan oleh kepemimpinan Bupati.
“Yang katanya serang bahagia tapi bagian serang mana yang sudah merasakan kebahagiaan atas kepemimpinan bupati itu saya rasa tidak ada kecuali para timses timsesnya saja,” tutupnya.***







